Minggu, 29 November 2015



RENUNGAN KETULUSAN
OLEH : ANGGELA NOVENA G
DOSEN PEMBIMBING GREGORIUS DARU
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."

Sebuah adegan yang mengharukan muncul di televisi beberapa waktu yang lalu. Saya lupa persisnya acara apa, yang pasti itu adalah sebuah reality show dengan hidden camera yang mencoba menguji kejujuran dan ketulusan seseorang. Jika ia lulus dari ujian itu, maka ia akan mendapatkan sejumlah besar uang sebagai imbalan dari kejujuran dan ketulusannya. Saya terharu melihat bahwa ternyata masih ada orang yang jujur dan tulus di dunia ini, sesuatu yang mungkin sudah menjadi pemandangan langka di jaman yang semakin sulit. Dan itu tertangkap kamera. Ada seorang pengantar uang yang pura-pura kesulitan mencari alamat. Ia menghampiri sebuah warung kecil, dan meminta tolong kepada seorang ibu yang kebetulan ada di sana untuk membantu mengantarkan uang itu. Uang itu ditujukan kepada seorang bapak yang sedang sakit. Ibu itu kemudian bersedia mengantarkan dan segera beranjak pergi menuju rumah si bapak yang sedang sakit itu. Saya mula-mula mengira bahwa alamat yang dituju tidak jauh. Ternyata ibu itu harus berjalan jauh dan dua kali berpindah angkutan umum untuk bisa mencapai rumah bapak yang sakit. Ia tidak sedikitpun membuka amplop uang itu sepanjang perjalanan. Dan belakangan diketahui ternyata ibu itu pun sedang sakit pula. Dalam keadaan yang juga tidak sehat, ia masih rela pergi jauh untuk mengantarkan sesuatu kepada orang yang tidak ia kenal, dan menyerahkan seluruh isi amplop itu. Akibat kejujurannya, sang ibu mendapat ganjarannya, ia dihadiahkan segepok uang yang serta merta membuatnya menangis dalam penuh rasa syukur.

Hati yang tulus dan murni seperti ibu tadi tidaklah mudah kita dapati lagi di hari-hari ini. Bayangkan seorang ibu yang miskin dan sedang sakit rela bersusah payah untuk mengantarkan seamplop uang kepada seseorang yang tidak ia kenal. Tapi itu ia lakukan dengan tulus dan ikhlas, penuh kejujuran. Jika manusia saja bisa menghargai hal seperti itu, apalagi Tuhan. Dalam Mazmur kita membaca demikian: "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Tuhan pun memberi ganjaran bagi mereka yang bersih tangannya, murni hatinya, tidak menipu dan bersumpah palsu. Orang seperti ini akan mendapatkan berkat dari Tuhan dan keadilan serta penyertaan Tuhan. Inilah kebahagiaan yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang hidup jujur dan tulus.

Berbagai kesulitan hidup mudah membuat orang jatuh ke dalam ketidakjujuran. Ketakutan akan hari depan dan sifat tidak pernah merasa puas seringkali membuat orang tergoda untuk mengambil jalan pintas. Korupsi, penipuan, penggelembungan dana dan lain-lain kebohongan dengan mudah menjadi alternatif, dan kesulitan hidup akan segera dipakai menjadi pembenaran atas perilaku curang tersebut. Tapi lihatlah si ibu yang tertangkap kamera di atas. Ia miskin dan sedang sakit, tidakkah ia pun butuh uang yang ada di amplop tersebut? Tapi ia tidak berpikir sempit dan singkat, tidak mementingkan dirinya sendiri. Ada orang lain yang juga butuh, dan itu jauh lebih penting ketimbang dirinya sendiri. Ini bentuk kasih yang sesuai dengan ajaran Kristus sendiri. Kita selalu diminta untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Matius 19:19) bahkan lebih dari itu, kita diajak untuk saling mengasihi seperti halnya Yesus sendiri mengasihi kita. (Yohanes 13:34).

Di dalam kasih terkandung banyak kebajikan. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Di dalam kasih itu ada bentuk-bentuk hidup dengan hati yang murni, penuh ketulusan dan kejujuran. Yohanes berkata: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Karena Allah sendiri adalah kasih, maka kita tentunya harus mencerminkan pribadiNya, berusaha untuk semakin menyerupai Kristus dan meneladani diriNya secara utuh. Karena itulah Tuhan tentu sangat senang jika kita hidup dengan kemurnian hati, ketulusan, kejujuran di dunia ini.

Ingatlah bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan. Kita tidak perlu khawatir berlebihan akan hari depan sehingga kita tergoda untuk melakukan tindakan-tindakan ketidakjujuran. Kita tidak perlu iri melihat orang lain, dan harus bisa belajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Yakobus mengingatkan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Hindari perilaku-perilaku curang yang mencermarkan hati kita. Ketahuilah bahwa meski mungkin kita berhasil mengelabui manusia, tapi Tuhan akan selalu melihat segala perbuatan kita. Dan Firman Tuhan berkata: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Oleh karena itu berdoalah agar kita bisa memiliki ketulusan hati. Belajarlah untuk senantiasa mempercayai Tuhan, mengasihiNya dan hidup sesuai kehendakNya. Tuhan menyediakan berkat-berkat bagi orang yang hidup dengan ketulusan, kejujuran dan kemurnian hati. "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Ini janji Tuhan sendiri. "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1). Nikmati kebaikan Tuhan lewat hidup yang kudus, penuh ketulusan dan kejujuran. Tuhan sanggup memberkati anda berlimpah-limpah dan melindungi hidup setiap orang yang berjalan seturut kehendakNya.

Selasa, 03 November 2015

MEMBANGUN PERDAMAIAN DUNIA DENGAN IMAN





MEMBANGUN PERDAMAIAN DUNIA DENGAN IMAN

OLEH 
ANGGELA NOVENA GIYATI
15.E1.0142
 DOSEN PEMBIMBING :GREGORIUS DARU







Selama kurang lebih 2 bulan lamanya saya menjalankan proyek kebaikan. Bisa dilihat dari gambar-gambar yang saya posting ini.Gambar-gambar  ini merupakan salah satu contoh gambaran iman saya untuk misi perdamaian antar umat. Saya merupakan umat katolik, namun saya tidak pernah sukar untuk membantu sesama yang berbeda dari saya entah itu dari sudut pandang etnis,agama,ataupun asal daerah. Blog ini saya buat bukan hanya untuk memenuhi Tugas Akhir Semester namun, blog ini saya buat juga untuk menggerakan hati kita bahwa perbedaan bukanlah penghalang. “kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri” kata-kata ini saya ambil dari perikop kitab suci agama katolik,dari sinilah dasar saya untuk menjalankan tujuan saya yaitu “imanku mendamaikan dunia”.  Bisa kita lihat dari gambar-gambar ini banyak sekali umat-umat beragama lain yang mebutuhkan uluran tangan kita, melalui hal kecil yang saya lakukan ini mungkin bisa mengetuk hati kalian untuk saling mengulurkan uluran cinta kasih kepada orang yang “BERBEDA” dengan kita. Dengan apa yang saya perbuat ini mulai dari menolong ibu yang buta di angkutan umum, berbagi canda tawa dan sedikit rezeki untuk anak-anak loper Koran, dan mengajari anak-anak di SD Islam yang kesulitan mengerjakan PR serta masih banyak lagi hal-hal yang saya lakukan. Ini adalah contoh bahwa melalui iman kita bisa mewujudkan suatu perdamain dimana tidak ada konflik dan kerusuhan yang terjadi . Indonesia bisa menjadikan penduduknya  aman,tentram,”adem ayem” dengan cara saling menghargai dan membuka hati untuk terbuka dengan orang-orang yang berbeda dengan kita. Janganlah kita selalu berfikir bahwa agama lain salah,agama lain sesat,dsb. Melainkan kita harus merubah cara pandang kita tentang perbedaan agama dengan cara kita mau membuka diri untuk berdialog antar agama,hargai pendapat agama lain dan janganlah menyombongkan agama yang dianut. Karena perlu diingat bahwa tidak ada agama yang sempurna,semua itu pasti ada “plus” “minusnya”. Karena perdamaian adalah hal yang indah,jadi jangan tanam rasa egois kita namun kini saatnya kita harus berbaur dalam perbedaan.